SQ Reformation Center

16. “Telmi” dan “Telsi” (Prinsip Takdir)

Kita semua pasti pernah mengalami apa yang disebut dengan istilah Telmi “telat mikir” ini, yaitu suatu kondisi dimana Akal-IQ kita terlambat menangkap informasi (dari manusia) yang datang melalui panca indra. Seperti yang sering terjadi ketika sedang dalam percakapan dengan orang lain dalam kelompok, tiba-tiba kita kehilangan topik pembicaraan dan mereka semua menertawai  dan menegur kita : Kamu Telmi sih !.

Disamping Telmi saya punya istilah baru yaitu Telsi “telat spiritual”, ini terjadi apabila Spiritual-SQ kita terlambat menangkap informasi (dari Tuhan) melalui perangkat Iman. Sementara waktu (bisa pendek atau panjang) kita tidak bisa menyadarinya karena tidak ada tanda dari teguran manusia lainnya secara langsung. Sampai akhirnya keterlambatan informasi spiritual tersebut terwujud menjadi kenyataan, yaitu nasib dan takdir buruk (atau baik) kita.

Akibat Telmi mungkin hanya ditertawai orang, tetapi Telsi berdampak sangat fatal didalam kehidupan yang dialami oleh sebagian besar manusia sebagai akibat dari SQ rendah. Seperti terjadinya penyakit tak tersembuhkan, keretakan hubungan tak terpulihkan, kebangkrutan finansial tak teratasi, lamaran pekerjaan tak diterima, jodoh tak kunjung datang, dan masih banyak nasib buruk lainnya.

Seperti terkisah didalam Kitab Suci bahwa sebelum Adam memakan buah pohon pengetahuan yang terlarang ; Tuhan Berfirman : “Pada hari engkau memakannya maka engkau pasti mati !”. Dalam hal ini Tuhan bicara melalui SQ Adam bahwa hari itu juga dia akan mati ketika memakannya. Tetapi kenapa dalam kenyataannya, setelah makan buah tersebut Adam masih hidup terus dan baru mati setelah 930 tahun kemudian ?. Inilah prinsip takdir (kepastian) yang sudah ditetapkan secara dini 930 tahun sebelumnya dan hanya SQ yang mampu memahaminya. Sebab apabila Adam tidak makan buah pohon terlarang tersebut maka dia akan hidup langgeng di Firdaus dan tidak akan pernah mati.

Ilustrasi ini mengajar kita bahwa kepekaan potensi Manusiawi-IEQ sangatlah rendah dibanding kepekaan potensi Ilahi-SQ, sebab sesungguhnya Tuhan selalu “berbicara” kepada setiap manusia dengan memberikan informasi dini yang sangat penting tetapi jarang manusia mampu memahaminya. Akibatnya, manusia jarang bisa mengendalikan nasib dan takdirnya.

14. Resiko Berbohong

Berbohong pasti sering kita lakukan setiap hari, dari yang besar, kecil, dan berbohong demi kebaikan !?. Kebohongan besar seperti manipulasi yang merugikan orang banyak jelas tidak benar dan merupakan kejahatan, tetapi bagaimana dengan kebohongan kecil tentang menyuruh anak bilang kita tidak ada dirumah ketika menerima telpon misalnya, juga berbohong demi kebaikan supaya orang lain tidak tersinggung dan sebagainya.

Kebohongan adalah tabiat Jaim-IQ yang lebih rendah dari Kepolosan tabiat Kepribadian-EQ dan tentu saja berlawanan dengan Kejujuran tabiat mulia Karakter-SQ. Tidak harus Polos dengan mengatakan semua apa adanya tetapi jangan Bohong!, sebab Kebohongan apapun dasar alasannya adalah tidak baik dan tidak benar serta sangat merugikan diri sendiri, kenapa ?.

Setiap kebohongan yang kita ucapkan akan membentuk simpul-simpul penyumbat didalam syaraf neuron penghubung Otak Neo Korteks IQ dengan Otak “God Spot” SQ (Lobus Temporal, Medula ?), sehingga akan menambah kesulitan untuk aktifnya Otak God Spot tersebut.

Dengan kata lain kebohongan akan membuat SQ kita sulit untuk dicerdaskan, Karakter dan Iman kita sulit bertumbuh, dan yang lebih parah adalah Kelimpahan Sejati sulit terlimpahkan kedalam hidup kita karena tidak ada lagi akses Kuasa Tuhan didalam diri kita.

Sebagai catatan, bahwa memang diperbolehkan untuk tidak mengatakan yang sebenarnya demi kebaikan tetapi ini hanya bagi pribadi yang sudah cerdas SQ nya, dan sesungguhnya ini bukan merupakan kebohongan tetapi merupakan hikmat SQ demi tercapainya tujuan yang lebih mulia (untuk keselamatan jiwa seseorang dsb).

10. Evaluasi Kedewasaan Karakter

Karakter sebagai bagian utama dan terpenting dari sistem akhlak manusia adalah tabiat yang terpogram didalam spiritual atau otak “god spot”. Kedewasaan Karakter yang menjadi target kinerja dari SQ Reformation ini merupakan “wadah” bagi tumbuhnya Visi-Motivasi Iman seseorang, sehingga kadar Iman sangat ditentukan oleh ukuran wadahnya yaitu kedewasaan karakter. best hotels . Dengan demikian sangat mudah untuk mengetahui kadar Iman seseorang siapapun dia, yaitu lihat karakternya!.
Masalahnya, karakter ini tidak terlihat pada saat kondisi normal seseorang, tetapi baru muncul kepermukaan pada saat ada masalah (terutama masalah yang menyangkut uang !).

Siapa yang paling tahu dan bagaimana online casino dgfev mengevaluasi karakter ?.

Pertama tentu Tuhan yang paling tahu karakter kita, kedua adalah diri kita sendiri, ketiga adalah orang terdekat dan lebih “rendah”  (suami/istrinya, anaknya, pembantunya, sopirnya, anak buahnya, muridnya). Maka tanyalah kepada mereka itu kalau mau tahu karakter seseorang, jangan tanya kepada otoritas diatasnya (bosnya dll) sebab yang terlihat hanya Tabiat Jaim atau topeng-nya.
Karakter juga bisa dilihat dari bagaimana seseorang memandang orang lain : seperti ketika “satu” jari telunjuk menunjuk orang lain maka bersamaan dengan itu ada “tiga” jari yaitu tengah/manis/kelingking yang mengarah kepada diri sendiri. Artinya kalau kita mengevaluasi orang lain jelek maka sesungguhnya diri kita tiga kali lebih buruk darinya, dan demikian sebaliknya.

Kenapa Karakter ini sangat diutamakan didalam SQ Reformation ini ?.

Kedewasaan Karakter ini menentukan besarnya “wadah kelimpahan” seseorang, dan karakter ini langgeng bersama roh manusia ketika meninggal yang merupakan tolok ukur kelayakan untuk memasuki kerajaan sorga nanti.

SQ Reformation Center