SQ Reformation Center

23. Bagaimana Memiliki Dua Pasport Kehidupan

Kebanyakan manusia hanya mempunyai Satu Pasport, ini bagai layaknya orang yang hanya mempunyai Satu Kewarganegaraan sehingga hanya mempunyai Kekebalan hukum dari Satu Negara saja. Sering kali hal ini menimbulkan kesulitan bagi kita saat memerlukannya, seperti pada saat kita memasuki negara-negara yang tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Indonesia. Alangkah mudahnya perjalanan kita bila mempunyai Dua Pasport yaitu Indonesia dan Amerika misalnya. Kalau kita mau masuk ke Negara-Negara Islam di Timur Tengah kita pakai Pasport Indonesia, tetapi bila berkunjung ke Negara-Negara Barat seperti Eropa & Amerika kita menggunakan Pasport Amerika, pasti kita dapat masuk menembus masalah keimigrasian setiap negara tersebut dengan sangat mudah dan lancar.

Demikian juga dengan kehidupan manusia, kebanyakan mereka hanya mempunyai Satu Pasport Kehidupan. Ini bagai layaknya manusia yang hanya mempunyai (mengandalkan) Potensi Manusiawi nya saja yaitu Kecerdasan IQ dan EQ, sehingga kita hanya mendapatkan Kekebalan (Kemampuan Mengatasi) masalah-masalah kehidupan pada dimensi Hukum Akal saja. Padahal pada kenyataannya banyak masalah kehidupan manusia yang tidak terselesaikan hanya melalui “diplomasi” Hukum Akal itu.

Apakah penyebabnya ?, Tidak lain karena banyak manusia tidak  mempunyai Kekebalan (Kemampuan) Hukum Iman yang lebih superior dari Hukum Akal. Hal ini disebabkan karena kebanyakan mereka tidak mengandalkan Potensi Ilahi nya yaitu  Kecerdasan SQ. Dengan SQ yang Aktif dan Cerdas, adalah seperti layaknya mempunyai Dua Pasport Kehidupan yaitu Kekebalan Hukum Akal & Hukum Iman yang setiap kali bisa kita manfaatkan. Apabila menurut Akal (dan Perasaan) kita sudah Tidak Ada Jalan Keluar, Tidak Ada Peluang, atau Tidak Mungkin maka masih ada Pasport lain yang berlaku untuk bisa menyelesaikannya, yaitu Kecerdasan SQ atau Potensi Iman yang mampu menembusnya.

Tidak ada masalah manusia didunia ini yang tidak bisa diselesaikan bila kita mempunyai Dua Pasport tersebut, sebab sesungguhnya semua kejadian dan masalah yang terwujud (terjadi) didunia ini dimulai pada dimensi Spiritual (Iman) terlebih dahulu sebagai penentu terwujudnya dalam dimensi Akal-Rasa dan Fisik.                  SQ Reformation memandu dengan kiat-kiat bagaimana menumbuhkan Potensi Visi-Motivasi Iman tersebut.

16. “Telmi” dan “Telsi” (Prinsip Takdir)

Kita semua pasti pernah mengalami apa yang disebut dengan istilah Telmi “telat mikir” ini, yaitu suatu kondisi dimana Akal-IQ kita terlambat menangkap informasi (dari manusia) yang datang melalui panca indra. Seperti yang sering terjadi ketika sedang dalam percakapan dengan orang lain dalam kelompok, tiba-tiba kita kehilangan topik pembicaraan dan mereka semua menertawai  dan menegur kita : Kamu Telmi sih !.

Disamping Telmi saya punya istilah baru yaitu Telsi “telat spiritual”, ini terjadi apabila Spiritual-SQ kita terlambat menangkap informasi (dari Tuhan) melalui perangkat Iman. Sementara waktu (bisa pendek atau panjang) kita tidak bisa menyadarinya karena tidak ada tanda dari teguran manusia lainnya secara langsung. Sampai akhirnya keterlambatan informasi spiritual tersebut terwujud menjadi kenyataan, yaitu nasib dan takdir buruk (atau baik) kita.

Akibat Telmi mungkin hanya ditertawai orang, tetapi Telsi berdampak sangat fatal didalam kehidupan yang dialami oleh sebagian besar manusia sebagai akibat dari SQ rendah. Seperti terjadinya penyakit tak tersembuhkan, keretakan hubungan tak terpulihkan, kebangkrutan finansial tak teratasi, lamaran pekerjaan tak diterima, jodoh tak kunjung datang, dan masih banyak nasib buruk lainnya.

Seperti terkisah didalam Kitab Suci bahwa sebelum Adam memakan buah pohon pengetahuan yang terlarang ; Tuhan Berfirman : “Pada hari engkau memakannya maka engkau pasti mati !”. Dalam hal ini Tuhan bicara melalui SQ Adam bahwa hari itu juga dia akan mati ketika memakannya. Tetapi kenapa dalam kenyataannya, setelah makan buah tersebut Adam masih hidup terus dan baru mati setelah 930 tahun kemudian ?. Inilah prinsip takdir (kepastian) yang sudah ditetapkan secara dini 930 tahun sebelumnya dan hanya SQ yang mampu memahaminya. Sebab apabila Adam tidak makan buah pohon terlarang tersebut maka dia akan hidup langgeng di Firdaus dan tidak akan pernah mati.

Ilustrasi ini mengajar kita bahwa kepekaan potensi Manusiawi-IEQ sangatlah rendah dibanding kepekaan potensi Ilahi-SQ, sebab sesungguhnya Tuhan selalu “berbicara” kepada setiap manusia dengan memberikan informasi dini yang sangat penting tetapi jarang manusia mampu memahaminya. Akibatnya, manusia jarang bisa mengendalikan nasib dan takdirnya.

8. Keberuntungan atau Kasih Karunia Tuhan “Favour of God”

Semua kejadian-baik yang kita alami didunia ini bisa digolongkan sebagai ‘keberuntungan’ atau ‘kasih karunia’, hal ini sangat besar perbedaanya tergantung dari cara pandang dan berpikir kita. Keberuntungan adalah cara pandang (potensi) manusiawi IEQ, sedangkan Kasih Karunia adalah cara pandang (potensi) Ilahi SQ dari setiap pribadi. Tetapi tidak sesederhana itu, karena justru cara pandang dan berpikir itulah yang menghasilkan atau membuat kejadian baik tersebut terwujud. . Keberuntungan bersifat sesekali saja karena kita tidak tahu apa penyebabnya sehingga kita tidak bisa mengulangnya, sedangkan Kasih Karunia datang secara terus menerus didalam kehidupan kita karena mata SQ kita memahami sebab awalnya yaitu karena kita memerkenan Tuhan.

Kasih Karunia adalah ‘perlakuan istimewa’ Tuhan bagi pribadi yang memperkenan-Nya, sehingga membuat orang lain yang melihatnya menjadi iri dan merasakan ketidak adilan.

Hanya pribadi cerdas SQ  yang berkarakter Serupa Citra Tuhan layak mendapatkan Kasih Karunia didalam kehidupannya.

Inilah contohnya :

1. Didalam antrian sangat panjang pembayaran tiket digerbang tol, ketika mobil kita datang ternyata ‘pas’ loket disebelahnya dibuka sehingga kita bisa langsung bayar.

2. Ketika kita ikut suatu tender yang secara logika tidak mungkin menang karena ada pesaing Perusahaan-A yang menggunakan teknologi canggih dengan kualitas dan harga jauh lebih baik. Tetapi saat diumumkan ternyata perusahaan kita yang menang tender!. Selidik punya selidik ternyata penawaran harga dari Perusahaan-A tersebut terlambat datang karena salah alamat ?!.

4. Karakter Genius Hakiki

Genius Hakiki adalah Pribadi Pilihan Tuhan. Pribadi ini berkarakter dewasa plus potensi Imannya sudah bertumbuh sehingga mempunyai Pikiran Pemenang yang sangat spesial yang lain dari cara berpikir manusia pada umumnya yaitu Pikiran Penyangkal yang hanya menyesali nasib dan Pikiran Pecundang yang hanya menerima nasib.
Pikiran Pemenang mampu mengubah keadaan dan tidak ada kata “tidak mungkin” baginya. Pribadi Genius Hakiki inilah yang dianugerahi kuasa didalam mengendalikan nasib dan takdir kehidupannya melalui proses penciptaan kelimpahan sejati.
Konsep “kebetulan” adalah salah menurut cara berpikir pemenang, sebab semua kejadian diseluruh jagat raya ini adalah atas pengetahuan dan desain Tuhan sejak awalnya, jadi bukan kebetulan. Artinya, nasib/takdir tersebut seharusnya bisa dikendalikan dari penyebab awalnya bagi pribadi Genius Hakiki.
SQ Reformation akan membentuk Pribadi Genius Hakiki ini.

Kesaksian pribadi Pikiran Pemenang :

Ini adalah salah satu contoh dari banyak kesaksian sederhana saya. Saat mau potong rambut dengan pemotong rambut langganan saya, setelah saya sampai disalon ternyata dia tidak masuk kerja karena pulang kampung hingga minggu depan. Kemudian saya memutuskan untuk kembali pulang kerumah sambil masih membawa hasrat potong rambut itu karena akan terlalu gerah kalau harus ditunda.
Di tengah perjalanan tiba-tiba ada hasrat untuk kembali lagi kesalon tersebut karena wajah sipemotong rambut itu tercitra begitu jelas dibenak pikiran saya. Sejenak akal saya mengatakan tidak mungkin !, dan juga saya malas untuk kembali lagi karena memang sudah jelas kalau dia tidak bekerja hari ini. Tetapi pikiran pemenang itu terus mendorong saya dengan sangat kuat sehingga saya mau membalikkan arah mobil saya.

Dan apa yang terjadi? Ternyata pemotong rambut itu sudah ada disana sedang bekerja !

SQ Reformation Center