SQ Reformation Center

20. Kebenaran Yang Dituntut Tuhan

Kita semua pasti lebih sering merasa diri kita benar dari pada merasa bersalah. Tetapi ini menurut kaca mata atau cara pandang diri kita dan bukan menurut orang lain dimana kita berinteraksi dengannya. . Hal inilah yang sering membuat terjadinya selisih faham sampai bisa berakibat fatal.
Semua manusia pasti mengaku mempunyai alasan dan maksud benar didalam melakukan tindakannya. Tetapi bagaimana dengan sikap menghakimi dan menzolimi yang sampai pada tindakan memarahi, memukul, merusak, dan bahkan membunuh (kasus bom dll) dengan alasan kebenaran ?.
Bagaimana dengan anak dibawah umur yang belum mengetahui kebenaran (aturan & hukum) dan kemudian melanggarnya, apakah bersalah dan harus menerima hukuman ?.
Apakah kebenaran itu ?, Apakah ukurannya ?, Siapakah hakim yang berhak menentukan benar atau salah ?.
Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa : Kebenaran yang dituntut Tuhan adalah kebenaran yang diketahui oleh pikiran dan isi hati.
Tuhan-lah hakim yang berhak menuntutnya dan bukan manusia, dan kebenaran Firman-Nya adalah ukurannya. Sehingga bila kebenaran itu masih perlu dipertahankan didepan manusia berarti itu bukan kebenaran yang hakiki.

Apabila yang akan kita perbuat ada konflik dengan pikiran atau isi hati (nurani) maka itu berarti bukan kebenaran, dan akan berakibat dosa bila kita melakukannya. Makin banyak kebenaran yang kita ketahui maka makin banyak pula yang dituntut Tuhan kepada kita, atau ratio antara kebenaran yang dilakukan dengan yang diketahui oleh setiap pribadi itulah tingkat kebenaran dimata Tuhan.

Sebagai contohnya, makin tinggi pengetahuan dan kedudukan seseorang disuatu organisasi maka dia makin mengetahui seluk beluk aturannya, sehingga dia dituntut sebagai pelaku kebenaran lebih banyak, sebab makin besar peluang untuk memanipulasi kebenaran tersebut.
Pertanyaannya adalah, bagaimana kita mampu melakukan kebenaran lebih banyak dengan menambah makin banyak lagi kebenaran yang kita ketahui. SQ Reformation akan menuntun kita kepada kebenaran yang akan melepaskan belenggu keterikatan kita kepada dosa.

15. Seberapa Besar Percaya Kita Kepada Tuhan ?

Sebagian besar kita pasti mengaku percaya kepada Tuhan sesuai dengan ajaran agama kita masing-masing. Tetapi didalam kenyataan dan prakteknya tidak mudah untuk melakukan dan membuktikannya didalam kehidupan kita. Sebagai contohnya kita percaya bahwa Tuhan Maha Pelindung, tetapi kita masih sering takut dan khawatir dalam menghadapi kehidupan ini. Pada malam hari sebelum tidur kita sering gelisah dan khawatir tentang pekerjaan dikantor besok hari, tentang tagihan-tagihan keuangan, tentang pergaulan anak remaja kita, tentang ujian sekolah, dan masih banyak lagi.
Pada intinya yang kita takutkan adalah tentang hal atau kejadian “yang akan terjadi” diwaktu yang akan datang, baik segera ataupun dengan jangka waktu. Hal ini menunjukkan kurangnya kadar percaya kita kepada Tuhan, bahwa Dia Yang Maha Pelindung ini sanggup untuk melindungi dan membentengi kita dari serangan masalah apapun yang akan kita hadapi.
Hal “percaya” ini merupakan inti dari pengajaran SQ Reformation, karena dengan “percaya” maka terwujudlah apa yang kita hasratkan. Seperti tersebut didalam Firman Tuhan : “Terjadilah menurut Iman-Percaya mu” (bukan menurut pikiranmu !).

Hal “percaya” ini tidak mudah dan tidak bisa diusahakan secara manusiawi dengan akal kita, memang pengertian logika bisa membantu mengatasi sementara tetapi tidak bisa secara permanen. Artinya ketakutan kita akan timbul kembali bila menghadapi masalah yang sama ataupun masalah yang berbeda.

Sebab hal “percaya” ini merupakan karakter atau buah roh yang terprogram didalam dimensi spiritualitas kita, dan hanya potensi SQ yang mampu memahami hal-hal yang akan datang seperti layaknya sebuah radar.
SQ Reformation akan menumbuhkan karakter percaya ini seiring dengan potensi Iman.

6. Cara berpikir yang salah

Ini adalah kisah nyata. Ada seorang dokter spesialis merasakan akhir-akhir ini kondisi tubuhnya kurang sehat. Sebagai seorang profesional di bidang tersebut dia memutuskan untuk ‘mencari’ sumber penyakitnya ada di mana. Pergilah dia ke rumah sakit di luar negeri, tetapi tidak ditemukan kelainan apapun. Dokter tersebut masih kurang puas, kenapa penyakitnya tidak ada (?). Sehingga dia pindah ke rumah sakit lain yang mempunyai peralatan tercanggih untuk melakukan observasi total terhadap dirinya. Akhirnya ditemukan benjolan kecil terbungkus lemak di levernya, maka begitu puaslah dokter tersebut (?). Kemudian dengan penuh percaya ‘akal’ diri dia minta supaya bagian benjol levernya dipotong. Dan yang terjadi adalah, dokter tersebut meninggal tiga bulan kemudian.

Inilah cara berpikir yang kelihatannya benar tetapi sesungguhnya salah. Kesalahannya adalah dia berfokus pada ‘penyakit’ dan bukan ‘sehat’, sehingga terjadilah apa yang terus menerus dia pikirkan. Dia puas kalau penyakitnya ada (sakit) dan tidak puas kalau penyakitnya tidak ada (sehat), ini sungguh cara berpikir yang salah dan terbalik ! Penyakitnya makin parah karena setiap hari dia khawatir (zikir tentang hal negatif) sehingga tubuhnya memproduksi hormon negatif yang menurunkan kekebalan tubuhnya. Seharusnya dia bersyukur saat penyakitnya tidak ditemukan sehingga hormon positif terproduksi untuk menaikkan kekebalan tubuhnya yang mampu menyembuhkan benjolan dini tersebut.

SQ Reformation akan meluruskan cara berpikir IQ yang terbalik ini secara permanen.

SQ Reformation Center